Oliver tampak pucat dan terlihat seperti mayat, tim dokter yang membantu kelahirannya pun tidak menemukan detak jantung dalam 25 menit pertama.
Dalam rentang waktu itu dokter memberinya bantuan oksigen dan pijat jantung lembut. Karena ternyata diketahui Oliver tidak memiliki darah maka transfusi darah segera dijalankan. Dan yang terjadi, paramedis berusaha menahan air mata ketika monitor hatinya mengeluarkan suar ‘bip’ yang pertama kali.
Oliver hampir tak terselamatkan setelah mengalami kondisi langka yang disebut vasa previa. Vasa Previa ini membentuk vena ekstra di dalam rahim ibunya yang kemudian pecah. Hal itulah yang membuat ibunya jatuh sakit dan terbangun bersimbah darah saat kehamilannya berusia 37,5 minggu.
Sesampai dirumah sakit paramedis terkejut setelah mengetahui bahwa vena yang pecah itu berasal dari bayi yang sedang dikandung. Dokterpun bergerak cepat untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.
Oliver dilahirkan dengan berat 2,8 kilogram pada pukul 05.12. Setelah dokter memberi transfusi darah yang dipompa ke dalam tali pusat yang masih menempel, akhirnya pada pukul 05.37 detak jantung pertama Oliver terdeteksi dan semakin kuat saat ia diberi lebih banyak darah.
Oliver ditempatkan di unit perawatan bayi khusus. Diruang itu tim dokter memutuskan untuk menurunkan suhu tubuhnya agar otaknya bisa diselamatkan dari kerusakan. Ia ditempatkan di dalam mantel kecil penahan dingin untuk melancarkan aliran darah ke kulit, otak dan hatinya. Tiga hari kemudian, tim medis secara perlahan mulai meningkatkan suhu hingga mencapai 37 derajat Celcius. Itu semua dilakukan dengan seksama dan terukur agar Oliver bisa berkembang seperti bayi-bayi yang terlahir normal.
Oliver telah berjuang untuk hidupnya, tim dokter membantu dengan pengetahuannya, Tuhan menunjukkan kuasaNya dan keajaiban itu datang. Kini, Oliver sudah berusia 15 bulan dan sedang bermain dengan lincah bersama keluarga besarnya di Maidstone, Inggris.
Disebuah situs ibunya berkata: Sulit dipercaya jika melihat kembali apa yang telah dilalui. Tapi kini Olie sudah menjadi seorang anak laki-laki, ia akan hidup senang dengan seluruh cita-citanya. Sekarang dia duduk disini dan tersenyum padaku. Tim dokter benar-benar membantunya kembali ke kehidupan dan saya tak akan pernah cukup berterimakasih kepada para dokter dan Tuhan atas hadiah indah ini.
Article by Madhoni Yusman
Posted by Blogger Addict
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Wednesday, February 1, 2012
Thursday, January 26, 2012
Istri Tetap Cinta Meski Sudah Berganti Kelamin
Bagi pasangan Jayne dan Anne Watson yang berasal dari Halifax, West Yorkshire, Inggris, hubungan mereka merupakan sesuatu yang sangat spesial. Sebab itu pada tahun 2002 mereka memutuskan untuk menikah resmi setelah sempat tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan selama beberapa waktu.
Namun perjalanan rumahtangga tidak selalu mulus. Disuatu waktu Anne menuduh Jayne berselingkuh dan Jayne membantah tuduhan itu. Jayne bersumpah bahwa ia tidak pernah melakukannya.
Jayne memiliki keinginan untuk membuktikan dengan cara yang berbeda dari pria lain. Dan akhirya ia memutuskan untuk berganti kelamin menjadi wanita.
Awalnya Anne kaget dan marah, apalagi jika mengingat mereka sudah menikah selama sembilan tahun. Namun keputusan Jayne tidak bisa ditawar lagi.
Cinta memang buta dan tidak pandang bulu. Bahkan ketika sang suami berganti kelamin, istri tercinta tetap menyayangi apa adanya. Itulah yang terjadi pada Jayne dan Anne.
"Sedikit demi sedikit aku mencoba menerima kenyataan ini, walau kini suamiku seorang wanita, perasaan cintaku tidak akan berubah," ungkap Anne.
Ah... luar biasa.
Article by Madhoni Yusman
Posted by Blogger Addict
Namun perjalanan rumahtangga tidak selalu mulus. Disuatu waktu Anne menuduh Jayne berselingkuh dan Jayne membantah tuduhan itu. Jayne bersumpah bahwa ia tidak pernah melakukannya.
Jayne memiliki keinginan untuk membuktikan dengan cara yang berbeda dari pria lain. Dan akhirya ia memutuskan untuk berganti kelamin menjadi wanita.
Awalnya Anne kaget dan marah, apalagi jika mengingat mereka sudah menikah selama sembilan tahun. Namun keputusan Jayne tidak bisa ditawar lagi.
Cinta memang buta dan tidak pandang bulu. Bahkan ketika sang suami berganti kelamin, istri tercinta tetap menyayangi apa adanya. Itulah yang terjadi pada Jayne dan Anne.
"Sedikit demi sedikit aku mencoba menerima kenyataan ini, walau kini suamiku seorang wanita, perasaan cintaku tidak akan berubah," ungkap Anne.
Ah... luar biasa.
Article by Madhoni Yusman
Posted by Blogger Addict
Saturday, January 14, 2012
Menikah Denganmu, Sudah Takdirku!
Dulu, ketika dia berjalan ke arahku selepas melintasi pagar renta dan tak tau diri itu, percikan kagum tak dapat ku elak. Dan dapat ku ingat dengan jelas, saat itu juga malaikat cinta yang sok lembut menghantamku, aku babak belur! Mungkin, ini jawaban do’a yang dilayangkan hatiku yang muda. Dan sejak itu aku tahu bahwa aku mencintainya, dan bukan cinta namanya jika tak butuh pengorbanan.
Sejak siang yang terik namun menyejukkan hati itu, aku hampir berkelahi dengan Bryan Adams karena selalu berkunjung ke pikiranku dengan lagunya yang itu itu saja, Everything I Do, I Do It For You. Aku berpikiran apa bule ini nggak punya lagu lain, tapi ternyata yang kudapati, aku cuma tau lagunya yang itu, haa...! Meskipun berkelahi dengan Bryan Adams urung dilaksanakan, aku tetap berkelahi dengan apapun yang jadi penghalang keinginanku tuk bersamanya.
Sekarang, setelah sekian tahun berlalu, dari takdir itu kudapati dua pria kecil yang ketika bangun pai mereka akan berkompromi dan meumuskan sebuah rencana ”Apa yang kita buat hari ini tuk buat ayah uring-uringan?”. Betapa tidak, laptop, handphone, buku-buku, peralatan elektronik, perabot rumah dan semua yang penting-penting bagiku selalu dihancurkan dua bocah yang akan tertawa berguling-guling melihat aku senewen. Tapi, biar bagaimanapun brengseknya dua balita itu, mereka adalah putraku, tak ada cinta yang lebih besar didunia ini selain cintaku pada anak-anakku.
Tapi ternyata ada satu lagi yang menerima link cinta dariku meski kadarnya tak bisa kuprediksi. Dialah takdirku, dan menikah dengannya tak dapat kuhindari.
Barusan, aku mendengar lagi ucapan Mario Teguh, ”Untuk membangun jodoh, sedari awal tuntutlah yang terbaik, setelah menikah terimalah apa adanya”. Enak saja! Aku protes! Aku menuntut yang terbaik sepanjang waktu. Jadilah yang terbaik selama masih menjadi takdirku! Titik!
Dulu aku berkorban dan berkelahi dengan apapun yang menghalangiku. Kini saatnya aku menuntut yang terbaik. Aku punya lembar catatan yang sangat panjang berisi tuntutan dan harapan yang belum dia penuhi.
----------
”Selain menuntut kita juga harus berupaya sekuat tenaga untuk memberi yang terbaik.” Gubrak! Sepenggal kalimat dari temanku yang kuanggap brengsek karena selalu mabuk-mabukan menghantamku.
Tambahan hantaman yang membuatku lunglai adalah sebuah buku yang dihadiahkan istri padaku sebagai kado ulang tahun. Buku yang mampu menilai kadar kelayakan seorang suami. Sekali lagi gubrak!
Kado itu menghantarku ke alam dahulu, disaat keanggunannya melintasi pagar reot kos-kosan. Aku semakin sadar, selama ini aku menuntut terlalu banyak dan aku terlalu sibuk menuntut yang terbaik hingga aku lupa memberi yang terbaik.
Aku juga paham, menikah itu bak membeli tiket sekali jalan, tak ada kata kembali. Meski dia hanyalah takdir yang tak dapat ku hindari, tapi aku menikahinya karena dia cinta yang kupilih. Kini aku sadar, dia, sebagai takdirku, sebagai istriku, punya lembar catatan yang jauh lebih panjang dari milikku. Harapannya yang tak bisa kupenuhi jauh lebih banyak.
Sebab itu, demi anak-anakku, demi dua pria kecil yang setia dengan peran favoritnya, menjadi perancang interior terbaik abad ini, menyulap gubuk reot menjadi sangat berseni, menggeret kursi makan ke halaman, meletakkan panci diteras, menggeser-geser kursi tamu, lemari pakaian dikosongkan agar bebas keluar masuk, koleksi compact disk di ampelas dan kotaknya diletakkan di rak piring, demi dua bocah yang blingsatan sepanjang hari itu, dan tentu saja, demi cintaku, aku berjanji ia akan menerima yang terbaik dariku lebih dari yang ia harapkan.
Isteriku, cintaku padamu tak lagi sepenuh hati, tapi luber, melimpah meluap-luap. Aku menikah denganmu bukan karena ingin didekatmu, tapi aku menikahimu karena aku tak bisa hidup tanpamu.
Kaulah takdir terindah.
Article and Posted by Blogger Addict
Tulisan ini kupersembahkan khusus buat istriku.
Kecantikan itu relatif tapi tidak untuk yang satu ini.
Ia, istriku, wanita tercantik di dunia.
Wednesday, January 4, 2012
Membenci Sepuluh Tahun, Mencintai Seumur Hidup
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Padahal, kedua orangtuaku sangat menyayanginya karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri mereka satu-satunya.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun tak menyukainya, aku tetap melayani kebutuhan seksualnya. Aku melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan tuk meninggalkannya tapi aku tak punya pekerjaan untuk membiayai hidupku.
Karena aku tak mencintainya, kulakukan segala hal sesuka hatiku. Ternyata suamiku tidak melarang ataupun memarahi segala tingkah lakuku dirumah. Ia membiarkan dan memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai laptopku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-teman.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun tahu ia membiarkannya. Akhirnya aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan ini semakin bertambah ketika aku mengetahui bahwa aku mengandung dan harus melahirkan anak kembar. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa sudah berusia delapan tahun. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu, ia mengingatkan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yah..., karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, seperti biasa aku memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu di salon adalah hobi wanita, tak terkecuali aku. Ternyata di salon aku bertemu teman lama sekaligus orang yang sebenarnya tidak kusukai. Kami mengobrol sembari saling memamerkan kegiatan dan keluarga kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” kata suamiku menjelaskan dengan lembut.
Akupun langsung mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, aku mengangkatnya dengan setengah membentak, “Apalagi?”
“Sayang, aku pulang sekarang, akan ku ambilkan dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebutkan nama salon dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Pemilik salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Akhirnya panggilanku diterima setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?” Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit.
Aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Dengan bantuan dari pemilik salon aku tiba di rumah sakit. Tak lama seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib, seorang dokter keluar dari ruangan dan menyampaikan berita, suamiku telah tiada.
Mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada air mata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertua. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah, aku duduk di hadapannya. Aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.
Kusentuh perlahan wajahnya yang dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata mulai merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.
Bukannya berhenti, airmata justru semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatan dan kebutuhannya. Aku hampir tak pernah mengatur makanan untuknya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.
Ia pulang larut malam setiap hari karena jarak dari rumah ke kantor cukup jauh. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah. Aku tak tahu apa-apa sampai terbangun di tempat tidurku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dada. Keluarga besar kami membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan, tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.
Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, seperti biasa aku memanggil, dan ketika ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang.
Setiap malam aku menunggunya di kamar dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering membuat kamar tidur kami berantakan, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa.
Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi laptop, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekas yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus.
Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan ternyata aku juga mencintainya.
Aku marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkan dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, tak pernah muncul setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Aku tak tahu cara yang benar untuk mendapatkan uang. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk keperluan pribadiku dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata hampir seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami karena aku tak pernah bertanya sekalipun tentang itu.
Sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku tak bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh suamiku.
Dalam kebingunganku, ayah datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan dari suamiku bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak. Tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat untuk mencintaimu dan anak-anak. Perlu kau tahu, mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tapi ternyata aku tak bisa. Meski begitu, aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka sayang.
Jangan menangis sayangku yang manja. Lakukan banyak hal agar hidupmu tak terbuang percuma seperti selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu.
Dan untuk Farhan, kesatria pelindungku, jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang nakal dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito dan usahanya cukup berhasil meskipun dikelola oleh orang-orang kepercayaannya.
Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Sekian lama berlalu, banyak lelaki yang hadir tapi tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku.
Ketika orangtua dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putri kami berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putri kami menikah dengan seorang pemuda. Ia bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatap, “seperti cinta ibu pada ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “Bukan sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya.
Di kutip dan di edit oleh Blogger Addict
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun tak menyukainya, aku tetap melayani kebutuhan seksualnya. Aku melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan tuk meninggalkannya tapi aku tak punya pekerjaan untuk membiayai hidupku.
Karena aku tak mencintainya, kulakukan segala hal sesuka hatiku. Ternyata suamiku tidak melarang ataupun memarahi segala tingkah lakuku dirumah. Ia membiarkan dan memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai laptopku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-teman.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun tahu ia membiarkannya. Akhirnya aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan ini semakin bertambah ketika aku mengetahui bahwa aku mengandung dan harus melahirkan anak kembar. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa sudah berusia delapan tahun. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu, ia mengingatkan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yah..., karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, seperti biasa aku memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu di salon adalah hobi wanita, tak terkecuali aku. Ternyata di salon aku bertemu teman lama sekaligus orang yang sebenarnya tidak kusukai. Kami mengobrol sembari saling memamerkan kegiatan dan keluarga kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” kata suamiku menjelaskan dengan lembut.
Akupun langsung mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, aku mengangkatnya dengan setengah membentak, “Apalagi?”
“Sayang, aku pulang sekarang, akan ku ambilkan dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebutkan nama salon dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Pemilik salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Akhirnya panggilanku diterima setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?” Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit.
Aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Dengan bantuan dari pemilik salon aku tiba di rumah sakit. Tak lama seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib, seorang dokter keluar dari ruangan dan menyampaikan berita, suamiku telah tiada.
Mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada air mata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertua. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah, aku duduk di hadapannya. Aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.
Kusentuh perlahan wajahnya yang dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata mulai merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.
Bukannya berhenti, airmata justru semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatan dan kebutuhannya. Aku hampir tak pernah mengatur makanan untuknya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.
Ia pulang larut malam setiap hari karena jarak dari rumah ke kantor cukup jauh. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah. Aku tak tahu apa-apa sampai terbangun di tempat tidurku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dada. Keluarga besar kami membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan, tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.
Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, seperti biasa aku memanggil, dan ketika ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang.
Setiap malam aku menunggunya di kamar dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering membuat kamar tidur kami berantakan, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa.
Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi laptop, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekas yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus.
Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan ternyata aku juga mencintainya.
Aku marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkan dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, tak pernah muncul setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Aku tak tahu cara yang benar untuk mendapatkan uang. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk keperluan pribadiku dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata hampir seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami karena aku tak pernah bertanya sekalipun tentang itu.
Sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku tak bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh suamiku.
Dalam kebingunganku, ayah datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan dari suamiku bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak. Tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat untuk mencintaimu dan anak-anak. Perlu kau tahu, mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tapi ternyata aku tak bisa. Meski begitu, aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka sayang.
Jangan menangis sayangku yang manja. Lakukan banyak hal agar hidupmu tak terbuang percuma seperti selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu.
Dan untuk Farhan, kesatria pelindungku, jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang nakal dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito dan usahanya cukup berhasil meskipun dikelola oleh orang-orang kepercayaannya.
Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Sekian lama berlalu, banyak lelaki yang hadir tapi tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku.
Ketika orangtua dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putri kami berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putri kami menikah dengan seorang pemuda. Ia bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatap, “seperti cinta ibu pada ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “Bukan sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya.
Di kutip dan di edit oleh Blogger Addict
Sunday, January 1, 2012
Air Mata Wanita
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Ayahnya menjawab, “Semua wanita memang menangis meski tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak telah tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu Tuhan. Pada kesempatan ini tak lupa ia menanyakan hal yang mengganjal dihatinya sejak kecil. ”Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis?”. Dalam mimpinya Tuhan menjawab, “Saat menciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.”
“Kuberi wanita kekuatan untuk dapat mengeluarkan bayi dari rahimnya dan merawat bayi itu, walau seringkali ia harus menerima cerca dari anaknya”
“Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur”
“Kuberi wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah meski semua orang sudah putus asa”
“Pada wanita Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah”
“Kuberi wanita kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dalam situasi bagaimanapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberi kehangatan pada bayi-bayi yang terbangun didinginnya malam meski ia harus melawan kantuk. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya”
“Kuberi wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit. Juga menguatkan suaminya agar mampu melindunginya”
“Kuberikan pada wanita kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan menyayangi”
“Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan pada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Inilah kelebihan wanita yang tak dimiliki makhluk manapun. Air mata ini adalah air mata kehidupan”
“Namun yang lebih utama dari itu semua adalah kujadikan ia serang ibu, tempat bergantung semua manusia”
Sesungguhnya ibu adalah tokoh pertama dan utama dalam perjalanan hidup kita. Tak ada kasih yang lebih mulia daripada kasihsayang ibu kepada anak-anaknya.
Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir. Kasih ibu itu selalu berputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang, dan menyelimutinya seperti sejuk malam. Maka, dekatkanlah diri kita pada Ibu selagi beliau masih ada diantara kita, karena dikakinyalah kita menemukan kebaikan hidup, dunia dan akhirat.
Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa ibuku dan dosa ibu dari anak-anakku.
Amin.
Article and Posted by Blogger Addict
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Ayahnya menjawab, “Semua wanita memang menangis meski tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak telah tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu Tuhan. Pada kesempatan ini tak lupa ia menanyakan hal yang mengganjal dihatinya sejak kecil. ”Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis?”. Dalam mimpinya Tuhan menjawab, “Saat menciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.”
“Kuberi wanita kekuatan untuk dapat mengeluarkan bayi dari rahimnya dan merawat bayi itu, walau seringkali ia harus menerima cerca dari anaknya”
“Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur”
“Kuberi wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah meski semua orang sudah putus asa”
“Pada wanita Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah”
“Kuberi wanita kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dalam situasi bagaimanapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberi kehangatan pada bayi-bayi yang terbangun didinginnya malam meski ia harus melawan kantuk. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya”
“Kuberi wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit. Juga menguatkan suaminya agar mampu melindunginya”
“Kuberikan pada wanita kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan menyayangi”
“Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan pada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Inilah kelebihan wanita yang tak dimiliki makhluk manapun. Air mata ini adalah air mata kehidupan”
“Namun yang lebih utama dari itu semua adalah kujadikan ia serang ibu, tempat bergantung semua manusia”
Sesungguhnya ibu adalah tokoh pertama dan utama dalam perjalanan hidup kita. Tak ada kasih yang lebih mulia daripada kasihsayang ibu kepada anak-anaknya.
Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir. Kasih ibu itu selalu berputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang, dan menyelimutinya seperti sejuk malam. Maka, dekatkanlah diri kita pada Ibu selagi beliau masih ada diantara kita, karena dikakinyalah kita menemukan kebaikan hidup, dunia dan akhirat.
Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa ibuku dan dosa ibu dari anak-anakku.
Amin.
Article and Posted by Blogger Addict
Subscribe to:
Posts (Atom)





